Source : Yan Krukov for Pexels
Learner, berbicara tentang lingkungan kerja, tentunya kamu pasti ingin dong mendapatkan tempat yang nyaman dan bisa membuatmu tumbuh dengan kompetensi keahlian lebih baik lagi. Sayangnya, hal tersebut seringkali terhambat ketika ternyata lingkungan kerja tidak sesuai seperti ekspektasi yang diinginkan. Salah satu penyebabnya bisa terjadi karena toxic relationship di lingkungan kerja.
Jika berada dalam keadaan tersebut, pekerjaan terasa sulit dan berat untuk dilakukan. Apalagi nggak ada teman kerja yang mau terbuka untuk membantu, akhirnya bisa bikin kamu stres kerja sampai burnout. Akhirnya, produktivitas kerja menurun.
Daftar Isi
Nah, secara bahasa toxic relationship merupakan istilah untuk menggambarkan suatu hubungan atau relasi yang tidak seimbang. Bukan hanya untuk pasangan, hal itu juga bisa terjadi dalam dunia kerja dan dapat berpengaruh buruk bagi kesehatan fisik hingga mental pekerja.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh University of South Australia dalam British Medical Journal, toxic relationship di lingkungan kerja bisa meningkatkan risiko depresi hingga 300%. Publikasi yang dirilis pada 2021 tersebut juga mengungkap bahwa lingkungan kerja toxic mempengaruhi pengeluaran perusahaan lebih banyak. Pasalnya, hal itu membuat pekerja kelelahan dan tidak maksimal dalam bekerja hingga sering izin cuti karena stres.
Oleh karena itu, toxic relationship di lingkungan kerja perlu dikendalikan. Terkadang, keadaan tersebut tidak disadari lo oleh para pekerja. Mengenali tanda-tanda toxic relationship bisa jadi salah satu cara buat kamu menghadapi hal itu saat bekerja.
Memasuki hari pertama kerja menjadi saat- saat yang menentukan apakah kamu akan nyaman dalam perusahaan tersebut atau tidak. Namun jika ternyata rekan kerja tidak tertarik untuk menyambutmu, hal itu bisa jadi adanya tanda-tanda hubungan tidak sehat di lingkungan kerja lo. Apalagi jika mereka juga enggan untuk membantu dan memperkenalkanmu pada rekan kerja lain. Bahkan, saat kamu membutuhkan bantuan, mereka selalu berkata ‘sibuk’ atau ‘tidak memiliki waktu’ untuk menjelaskan. Kurangnya komunikasi menjadi salah satu tanda budaya kerja yang toxic.
Kita memang tidak pernah bisa selalu siap untuk menghadapi sifat atau tingkah laku semua orang, terutama dalam perusahaan. Maka, tak heran bila seringkali terjadi konflik perbedaan pendapat hingga kritik di dalamnya. Namun, hal tersebut akan membuat hubungan kerja menjadi tidak sehat saat perbedaan itu sering menjadi bahan untuk bergosip antar rekan kerja. Apalagi dilakukan secara terus-menerus dan membicarakan hal buruk tanpa sepengetahuan rekan kerja lain yang sedang digosipkan? Duh… red flag deh untuk lingkungan kerja penuh gosip. Lalu, bagaimana ya cara menyikapi gosip di linkungan kerja?
Baca Juga: Gosip di Lingkungan Kerja Adalah Hal Biasa, Ini 5 Cara Mengatasinya
Perbedaan utama antara lingkungan kerja yang penuh tekanan dan toxic yaitu bahwa pekerjaan toxic membuat seseorang memperlakukan orang lain dengan tidak hormat. Misalnya, ketika rekan kerjamu menyepelekan pesan surel dari kolega atau klien dan dianggap normal oleh perusahaan. Menjadi pengamat dari sikap buruk rekan kerja secara terus-menerus, memiliki konsekuensi negatif jangka panjang. Jika tidak segera dihentikan, tak menutup kemungkinan jika kamu bisa melakukan hal yang sama. Karena perilaku buruk itu menular.
Saat kamu mulai menyadari adanya tanda-tanda toxic relationship di lingkungan kerja, ada 2 pilihan yang bisa dilakukan. Pertama, kamu bisa menghindari lingkungan tersebut dengan mengajukan diri untuk keluar dari perusahaan. Kedua, berani mengatasi keadaan toxic di lingkungan kerja dengan tepat.
Jika kamu belum mendapatkan opsi pekerjaan lain untuk pindah perusahaan, maka pilihan kedua diatas dapat diterapkan. Lalu, bagaimana caranya mengatasi toxic relationship di lingkungan kerja?
Ketika lingkungan kerja cenderung didominasi oleh rekan kerja toxic, setidaknya ada kemungkinan beberapa rekan kerja lain yang memiliki energi positif. Bahkan, bisa jadi kamu juga menemukan seseorang yang juga merasakan hal yang sama lelahnya saat menghadapi toxic relationship di lingkungan kerja. Saat menemukan orang tersebut dalam perusahaan, cobalah untuk saling berbagi isu toxic relationship di lingkungan kerja dengannya. Ketika mendapatkan rekan kerja yang sepaham, kalian bisa saling bersimpati dan menguatkan satu sama lain untuk mengatasi hubungan tidak sehat dalam bekerja.
Dalam dunia kerja, saling membicarakan rekan kerja lain merupakan hal biasa. Namun kondisi tersebut tentunya tidak boleh dibiarkan terus-menerus karena bisa menyebabkan hubungan tidak sehat antar pekerja. Oleh karena itu, ketika kamu berada dalam pusaran gosip yang dilakukan oleh teman kerjamu, beranikanlah diri untuk berbicara dengan tenang. Cobalah bersikap netral dan arahkan pembicaraan ke topik baru. Saat kamu terlihat tidak tertarik pada pembicaraan tersebut, rekan kerjamu akan menyadari jika kamu enggan untuk diajak bergosip.
Bagi sebagian orang, berbicara dengan atasan mungkin akan membuat situasi kerja tidak nyaman. Meski begitu, saat banyak rekan kerja tim berperilaku toxic dan membuat produktivitas kerja menurun, hal tersebut menjadi penting untuk diceritakan pada atasan. Tujuannya agar atasan lebih menyadari isu tersebut dan meningkatkan budaya kerja lebih baik. Saat bercerita, tetaplah bersikap netral dan berpegang pada fakta. Selain itu, komunikasikan dengan jelas apa yang telah kamu lakukan untuk menghadapi situasi tersebut dan mintalah masukan mereka.
Bagaimana jika toxic relationship di lingkungan kerja dilakukan oleh atasan? Tentunya kita pasti akan sungkan untuk menegur atau melawannya. Meski begitu, kita tetap harus punya batasan diri agar tidak larut dalam keadaan tersebut. Saat keadaan toxic sudah membuat semangat kerja menurun, cobalah untuk ‘melawan’ dengan membangun komunikasi asertif. Berkomunikasi dengan jujur dan tegas bisa menjadi salah satu cara untuk menyadarkan perilaku toxic agar tak berulang. Namun jika hal tersebut tidak merubah apapun, cobalah untuk meminta bantuan pada divisi manajemen sumber daya manusia.
Meski jam kantor telah usai, kita sering memikirkan banyak hal yang telah seharian terjadi. Bahkan, tak jarang hal-hal toxic seperti rekan kerja yang banyak bergosip, beban kerja tidak realistis, dan adanya bullying dalam pekerjaan dapat menjadi beban pikiran yang tidak bisa berhenti meski jam kantor telah usai. Padahal, hal itu bisa diatasi dengan menciptakan work life balance. Kesadaran untuk tidak banyak membicarakan kehidupan kantor di luar jam kerja, bisa mengurangi stress berkepanjangan. Karena pada akhirnya, tidak sehat bagi kita untuk memikirkan hal-hal yang tidak dapat dikendalikan. Maka dari itu, cobalah menciptakan kehidupan di luar kantor yang lebih menyenangkan!
Istilah people pleaser ditujukan untuk seseorang yang selalu memprioritaskan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Dalam dunia kerja, sifat tersebut membuat seseorang sulit untuk mengatakan ‘tidak’ saat mendapatkan perintah dari atasan atau rekan kerja lain. Akibatnya, mereka memiliki beban kerja lebih banyak dan seringkali ‘dimanfaatkan’ untuk menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya tidak ingin dilakukannya. Padahal, terkadang kita perlu untuk mengatakan ‘tidak’ dalam pekerjaan dan hanya fokus mengerjakan pekerjaan utama. Hal itu juga bisa membuat kita belajar untuk memprioritaskan pekerjaan agar bisa lebih terstruktur.
Berada dalam toxic relationship di lingkungan kerja dapat menguras energi. Oleh karena itu, kita harus paham untuk mengatasinya. Sadari jika kita tidak dapat mengubah bagaimana cara orang lain untuk berperilaku atau memperlakukan kita. Namun kita memiliki daya untuk mengendalikan diri sendiri dalam memberikan reaksi dan tanggapan. Maka dari itu, hal terbaik yang bisa dilakukan dalam mengatasi situasi tersebut dengan mengesampingkan emosi dan melihat masalah secara lebih objektif.
Salah satu indikator kesuksesan dalam bekerja adalah mampu membangun dan membina hubungan kerja yang positif. Berada dalam lingkungan kerja yang toxic bisa menghancurkan produktivitas. Meski begitu, mempelajari cara untuk mengatasi toxic relationship di lingkungan kerja secara efektif mampu membuatmu melangkah ke keseimbangan kehidupan kerja yang sehat. Juga, jangan lupa untuk mencintai pekerjaanmu, ya! Seperti kata Steve Jobs,
“The only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking.” -Steve Jobs
https://content.mycareersfuture.gov.sg/6-ways-survive-toxic-workplace/
Sebagai pekerja di suatu perusahaan, kita diharuskan untuk bisa bekerja baik secara individual maupun berkelompok,…
‘Penjualan adalah seni!’ Sebagian mengatakannya seperti itu. Memang dimana letak seninya? Kemampuan dasar dari menjual…
While attending a conference in downtown Jakarta recently, I had the opportunity to meet and…
Pelanggan merupakan salah satu aset penting dalam suatu usaha, baik yang bergerak dibidang produksi barang…
Setelah sukses menyelenggarakan Sales Training dalam rangka menghadapi event Expo Pakuwon, training untuk Pakuwon Jati…
Dalam rangka memperkuat kemampuan tim sales, Pakuwon Jati menggaet PARADIGM sebagai vendor pelatihan untuk menyelenggarakan…