Source : Yan Krukov for Pexels
“Eh, eh, kamu tahu nggak? Kabarnya si A mau nikah, katanya siiih calonnya itu atasan dia di kerjaan dulu!” Hayo, siapa nih yang suka ‘chit chat’ semacam itu di tempat kerja? Awalnya sih cuma iseng doang, menegur rekan kerja di meja sebelah yang lagi sama-sama suntuk. Tapi… Berawal dari iseng jadi keasyikan. Topik obrolannya menjalar kemana-mana. Mulai dari membicarakan anak magang, rekan kerja lain, senior sampai bos. Membicarakan hal-hal yang masih berkaitan dengan lingkungan kerja sampai kehidupan personal mereka masing-masing, kadang-kadang mengenai yang negatif dan belum tentu benar!
Hmm… Apakah hal tersebut sudah dikatakan menggosip, ya? Wah, wah… Mungkin di satu sisi, kita sebagai manusia memang butuh bersosialisasi dengan sesama rekan kerja. Tapi disisi lain, kadang-kadang perbincangannya malah mengarah ke gosip. Sebentar deh, menurut learner, bergosip itu hal yang selalu negatif bukan, sih?
Daftar Isi
Kalau kita merujuk pada KBBI, inilah pengertian gosip,
“Obrolan tentang orang lain; cerita negatif tentang seseorang; pergunjingan.”
Yap. Barangkali, tidak setiap obrolan tentang orang lain berarti gosip, apalagi jika yang dibicarakan adalah hal-hal positif mengenai orang tersebut. Dan menurut KBBI sendiri, yang dikatan gosip adalah cerita negatif tentang orang lain. Nah, kalau menurut situs Inc nih, ciri obrolan dikatakan gosip itu ada dua hal.
Pertama, obrolan yang terdengar menyenangkan saat membicarakan sesuatu yang tidak menyenangkan bagi orang lain. Misalnya nih, kamu sama rekan kerjamu tertawa saat membicarakan anak magang yang kemarin menangis disentak bos karena lelet. Kedua, orang lain yang sedang dibicarakan akan merasa sakit hati jika mendengarnya. Seandainya anak magang tersebut mendengar pembicaraan kalian tentang dirinya, maka Ia akan sakit hati. Sampai sini, paham kan?
Sayangnya, kita tidak bisa menolak fakta kalau gosip itu bisa menjadi semacam ‘pemersatu bangsa’. Lol. Apalagi dalam lingkungan kerja. Entah mengapa justru bisa menjadi sesuatu yang mampu membentuk ikatan antar rekan kerja. Nolaknya susah. Iya nggak?
Kadang-kadang, kalau awalnya kita sekadar ‘chit chat’ biasa dengan rekan kerja lalu lama-lama obrolannya mulai mengarah ke gosip, ingin rasanya undur diri dari obrolan tersebut. Tapi dalam hati dilema juga,
“Duh… lagi seru-serunya nih!”
“Duh… nanggung banget mau tahu kelanjutannya.”
Waduh, takutnya jadi kebiasaan yang tidak baik tuh. Lalu, bagaimana ya cara elegan yang bisa kita lakukan untuk menyikapi gosip di lingkungan kerja?
Baca Juga : Pahami 7 Hal Ini Sebelum Resign! Lebih Penting dari Sekadar Contoh Surat Resign Kerja
Ini penting banget, sih, apalagi buat karyawan baru, Sebelum kita mengikuti berbagai obrolan dengan rekan kerja lain, sebisa mungkin jadilah pengamat. Lihat bagaimana cara rekan kerja saling berhubungan dan berkomunikasi di tempat kerja.
Kalau kamu sering mendengar secara langsung ada seorang rekan kerja yang suka menjadi provokator dalam obrolan yang mengarah ke gosip, lebih baik berinteraksi dengannya sesedikit mungkin, terutama kalau memang kamu dan dia tidak ada kepentingan dalam urusan tugas dan pekerjaan.
“Whoever gossips to you, will gossip about you.” –Philip Sidney
Ketika ada rekan kerja yang membicarakan orang lain, jangan terburu-buru mengatakannya gosip. Sebagai contoh, kamu bisa melihat kedua perbedaan ini,
“Tau gak sih, orang dari divisi pemasaran yang dapet penghargaan kemarin, emang orangnya gigih banget, salut deh!” Yang seperti ini, dia membicarakan orang lain agar memotivasi kita agar bisa mengambil contoh yang baik, coba bandingkan dengan yang satu ini,
“Tau gak sih? Wajar aja orang dari divisi pemasaran yang dapet penghargaan kemarin, orang dia workaholic gitu kayak gak punya kehidupan sosial,” Nah, ini sudah termasuk gosip, nih. Tidak usah terlalu kamu tanggapi, deh.
Kalau kamu sedang asyik mengobrol santai lalu tiba-tiba obrolannya mengarah ke gosip, lebih baik cepat alihkan pembicaraan. Alihkan ke sesuatu yang netral seperti obrolan cuaca. Kalau ada yang mengalihkan kembali obrolannya ke gosip lagi. Belajarlah bersikap tegas, misalnya dengan berkata,
“Wah, mohon maaf, nih. Saya nggak nyaman ngobrolin orang lain kayak gini,”
Memang tidak mudah. Tapi kita juga perlu belajar untuk menyikapinya agar rekan kerja kita sadar kalau bergosip adalah perilaku yang tidak bisa ditoleransi.
Untuk menghindari rekan kerja lain menggosipkanmu, lebih baik kamu menjaga privasi hidupmu. Kecuali kalau memang kamu benar-benar mempercayai rekan kerja. Tapi bukan berarti kamu menjadi orang yang sangat tertutup, ya. Setidaknya, cukup bicarakan hal-hal yang jika semua rekan kerja tahu, itu tidak menjadi masalah buat kamu. Di tempat kerja, berteman dan berkomunikasi sewajarnya saja. Keep it private!
Kalau cara-cara yang sudah kamu lakukan tidak berhasil dan justru para rekan kerja perilakunya sudah melampaui batas, apalagi jika ada diantara rekan kerja yang menjadi subjek gosip merasa tersakiti. Kamu berhak untuk memberitahu atasan. Manajemen perusahaan yang mendukung lingkungan kerja yang sehat seharusnya bisa mengatasi masalah dengan cara mempromosikan budaya positif, jadi bukan hanya kamu yang berjuang sendirian berupaya menyikapi kebiasaan bergosip tersebut.
9 Ways to Get Rid of Workplace Gossip Immediately | Inc.com
Eight Ways for Dealing with the Office Gossip (kellyservices.ca)
Sebagai pekerja di suatu perusahaan, kita diharuskan untuk bisa bekerja baik secara individual maupun berkelompok,…
‘Penjualan adalah seni!’ Sebagian mengatakannya seperti itu. Memang dimana letak seninya? Kemampuan dasar dari menjual…
While attending a conference in downtown Jakarta recently, I had the opportunity to meet and…
Pelanggan merupakan salah satu aset penting dalam suatu usaha, baik yang bergerak dibidang produksi barang…
Setelah sukses menyelenggarakan Sales Training dalam rangka menghadapi event Expo Pakuwon, training untuk Pakuwon Jati…
Dalam rangka memperkuat kemampuan tim sales, Pakuwon Jati menggaet PARADIGM sebagai vendor pelatihan untuk menyelenggarakan…