Halo, Leader! Kamu tahu nggak sih kalau sekarang ini, pekerja produktif masih didominasi oleh kaum milenial? Yap, walaupun generasi Z mulai memasuki dunia kerja, saat ini bisa dibilang masih eranya kaum milenal, lo. Alias generasi Y yang rata-rata usianya sekarang adalah 25-40 tahun. Berbicara mengenai generasi milenial, pernah nggak sih kamu memperhatikan kalau gaya kepemimpinan generasi milenial dengan generasi sebelumnya itu berbeda? Coba deh kamu perhatikan di lingkungan kerjamu.
Barangkali, kita bisa menyebut gaya kepemimpinan millennial sebagai kepemimpinan modern, sedangkan gaya kepemimpinan sebelumnya sebagai kepemimpinan tradisional. Sebagai gambaran, kamu perlu tahu terlebih dahulu nih perbedaan antara keduanya.
Daftar Isi
Ciri Gaya Kepemimpinan Tradisional
-
Bersifat homogen
Kepemimpinan yang memiliki sifat yang sama di setiap titik. Biasanya, dalam menyelesaikan tugas dilakukan dengan cara yang sama secara berkelanjutan.
-
Penggunaan teknologi rendah
Artinya, ditandai dengan kurangnya pemanfaatkan teknologi.
-
Mobilitasnya rendah
Kurang adanya pergerakan. Biasanya karena cenderung mudah puas dengan apa yang ada.
-
Statis
Diam ditempat, tak banyak perubahan
Ciri Gaya Kepemimpinan Milenial
Lalu, bagaimana sih ciri-ciri dari gaya kepemimpinan milenial?

-
Demokratis
Ditandai dengan kemampuan mempengaruhi orang lain agar mau bekerja sama dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Biasanya dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan ditentukan bersama antara pimpinan dan bawahan.
-
Delegatif
Berfokus pada pendelegasian inisiatif kepada anggota tim.
-
Transaksional
Model kepemimpinan dimana seorang pemimpin lebih cenderung memberikan arahan pada bawahannya, dan memberi insentif serta hukuman pada kinerja mereka serta menitik beratkan terhadap perilaku untuk membimbing pengikutnya.
-
Transformasional
Kepemimpinan di mana seorang pemimpin bekerja dengan tim atau pengikut di luar kepentingan langsung mereka untuk mengidentifikasi perubahan yang diperlukan.
Nah, sudah dapat gambaran perbedaan dari gaya kepemimpinan keduanya? Sekarang, yuk kita dalami satu persatu perihal bagaimana zaman milenial mempengaruhi kaumnya khususnya dalam kepemimpinan mereka.
Baca Juga: Kamu Seorang Manager, Pelajari 5 Contoh Komunikasi efektif dengan Tim Kerja
Gaya Kepemimpinan Milenial, Kamu Banget Nggak Nih?
-
KEPEMIMPINAN BERBASIS TEKNOLOGI
Learner, salah satu sifat seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau terus belajar. Jangan mentang-mentang kamu adalah seorang pemimpin, kamu merasa cukup dengan kemampuanmu saat ini. Seorang pemimpin harusnya mempunyai jiwa kompetitif juga, supaya kamu sadar untuk bisa bersaing dengan organisasi, lembaga atau perusahaan lainnya. Kamu harus terus mengupgrade dirimu dalam berbagai aspek. Salah satu aspeknya ya yang sedang kita bahas seperti sekarang ini.
Berhubung kaum milenial itu identik dengan teknologi, maka sebagai seorang pemimpin, kamu harus belajar dan terus belajar hingga kamu mengerti bahkan menguasai teknologi. Misalnya, kamu mau mendapatkan data-data para anggotanya, kamu harus bisa menggunakan Google Form sebagai salah satu aplikasi dari Google yang memberikan pelayanan untuk mengumpulkan data-data sesuai kebutuhan. Kamu harus melek teknologi, tidak bisa mengandalkan bawahan-bawahanmu. Kamu sedikit banyak harus mengerti teknologi apa yang dibutuhkan untuk apa.

Source : Fauxels for Pexels Bagaimana caranya agar kamu ingin perusahaanmu bisa go public? Yaitu salah satu caranya dengan membuat website. WordPress adalah salah satu platform pembuatan website yang paling digandrungi para web developer. Jadi pemimpin itu harus juga tahu seluk-beluk WordPress. Kamu harus punya self management yang baik. Pandai mengatur waktu, menggunakan skill kamu sesuai waktu, tempat dan sikon (situasi kondisi), mengelola dan mengembangkan skill kamu, menempatkan diri kamu di segala waktu, tempat dan sikon, dan lain-lain.
Oleh karena itu, janganlah kamu menjadi pemimpin yang dipilih hanya karena karisma atau mungkin karena kekayaan kamu. Hendaknya kamu menjadi pemimpin juga karena kualitas dirimu.
-
KESEIMBANGAN IQ, EQ DAN SQ PADA PEMIMPIN
Kualitas pemimpin bisa diukur dari keseimbangan IQ, EQ dan SQ. Antara IQ, EQ dan SQ itu saling menopang, tidak bisa berdiri sendiri. IQ yang tinggi tapi tanpa EQ dan SQ, tidak akan menemukan hikmat kebijaksanaan dalam diri. Mengapa? Ketika EQ seseorang itu bagus, maka kamu akan pandai mengendalikan diri.
Sebelum berkata-kata dan bertindak, dipertimbangkan dulu matang-matang baik dan buruknya. Dan ketika SQ seseorang itu bagus, kamu akan bisa bertahan juga survive ditengah masalah yang kamu hadapi karena kekuatan dari spirit yang berasal dari Tuhan. Namun, jika kamu mempunyai EQ dan SQ bagus tetapi tidak mempunyai IQ tinggi, kamu akan menjadi seperti layaknya orang yang bodoh dan lemah karena kamu tidak memiliki daya nalar dan daya tangkap yang tinggi. Misalnya kamu diperhadapkan pada situasi di kantor, ada seorang bawahan kamu yang didapati melakukan korupsi.
Kamu dengan EQ dan SQ yang bagus, memilih untuk melaporkan ke pihak yang berwenang. Tetapi karena kamu tidak memiliki IQ yang tinggi, kamu akan secara gegabah bertindak sendiri karena kamu tidak tanggap atau tidak nalar akan resiko yang akan didapat jika kamu salah mengambil keputusan.
Banyak urutan-urutan langkah yang harus ditempuh untuk menangani kasus seperti dan harus melibatkan tim manajemen bahkan pihak yang memiliki otoritas lebih diatas kamu. Oleh karena itu, keseimbangan itu tetap diperlukan untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Ingat, seimbang itu bukan berarti harus menjadi sempurna. Sempurna itu berkaitan dengan punya dan bisa segalanya. Sedangkan seimbang itu berkaitan dengan memiliki komposisi yang sama atas apa yang dibutuhkan.
-
GAYA KEPEMIMPINAN HAMBA
Yap, menjadi pemimpin yang melayani. Menjadi seorang pemimpin tidak hanya bicara tentang perintah, kekuasaan, melainkan bicara tentang bagaimana kamu mau mendorong bawahan kamu dari belakang. Kamu tidak harus selalu menjadi yang terdepan. Memotivasi bawahan-bawahan kamu akan lebih efektif jika kamu lakukan dari belakang bawahan kamu, bukannya dari depan bawahan kamu.
Karena selain yang namanya mendorong itu dilakukan dari belakang, dengan begitu kamu juga akan bisa menginspirasi bawahan kamu sehingga mereka akan lebih mudah mau untuk berkembang dan maju. Menjadi seorang pemimpin juga bicara tentang melayani bawahan-bawahanmu. Mungkin kamu bertanya,
“Bagaimana itu bisa terjadi? Kok jadi pemimpin malah harus melayani?”
Secara teoritis, kepemimpinan hamba adalah seperti yang Albert Einstein katakan tentang ideas and opinion,“not mastery but service’ will lead people on the right way”.
Bukanlah perintah, kekuasaan yang akan memimpin orang ke jalan yang benar, melainkan pelayanan. Kepemimpinan yang ideal adalah kepemimpinan hamba ini. Kepemimpinan hamba tidak terbatas waktu, artinya itu bisa berlaku kapanpun bahkan sampai selama-lamanya. Para milenial yang baik, juga sebaiknya menerapkan gaya kepemimpinan ini.
Mother Theresa juga berkata,
“unless life is lived for others, it is not worth while”.
Jadi, janganlah kamu menjadi pemimpin otoriter yang memakai kekuasaan kamu secara mutlak, tapi jadilah rendah hati dengan mau mendengar masukan bawahan, mau melayani bawahan tanpa harus kehilangan wibawa sebagai pemimpin. -
MENJADI PEMIMPIN YANG INOVATIF
Untuk menjadi inovatif, diperlukan kreatifitas lebih bahkan diperlukan pemikiran dan tindakan yang out of the box. Kamu harus mau dan berani keluar dari zona nyaman kamu untuk mewujudkannya. Mengapa kedua hal itu (kreatifitas dan pemikiran serta tindakan yang out of the box) itu mempengaruhi seorang pemimpin untuk menjadi inovatif? Karena sesuatu yang baru itu berawal dari ide yang original.
Dengan kreatifitas, kamu bisa menciptakan hal-hal baru. Demikian juga pemikiran dan tindakan yang out of the box itu bisa memberikan nilai tambah pada karya kamu karena keunikannya. Jadi perpaduan keduanya akan bisa membantu kamu untuk melebarkan sayap perusahaan kamu.
Ketika kamu memaksimalkan keduanya, percaya deh, perusahaan yang kamu pimpin akan semakin maju. -
MENJADI PEMIMPIN YANG DISIPLIN
Kita sudah membahas kepemimpinan hamba. Menjadi pemimpin hamba bukannya kamu harus menjadi lemah terhadap bawahan, bukannya kamu bisa mentolerir kesalahan bawahan. Kamu tetap harus bisa mendisiplinkan baik diri kamu maupun bawahan kamu. Kamu juga tetap harus menerapkan punish and reward. Ketika kamu mendapati kesalahan dilakukan bawahan kamu, kamu berhak memberikan hukuman yang setimpal dengan kesalahan bawahan kamu.
Sebaliknya kalau kamu mendapati bawahan kamu berprestasi, berikan juga penghargaan kepadanya. Dan kamu pun harus mempunyai prinsip yang teguh untuk menegakkan kedisiplinan
Finally, kita sampai pada akhir artikel ini. Sudah paham belum nih apakah atasanmu dikantor yang notabene seorang milenial, menerapkan gaya kepemimpinan tersebut? Nah, kalau kamu ingin belajar menjadi pemimpin dengan gaya milenial, semua persyaratan diatas harus bisa dipenuhi supaya kamu menjadi pemimpin yang seimbang.
https://www.instagram.com/p/CZRoZZevLIs/
Kamu harus bisa menguasai teknologi, harus bisa berinovasi, harus disiplin tetapi tetap rendah hati. Tapi yang terpenting adalah semua persyaratan itu ditunjang dengan doa dan usaha kamu. Ketika semua hal tersebut saling bersinergi, maka kamu bukan hanya akan menjadi pemimpin yang hebat tapi juga akan menjadi pemimpin yang baik.
Source :
https://www.peoplegoal.com/blog/leadership-styles-and-the-millenial-what-is-their-leadership-style
https://www.momenta.one/insights/how-technology-shaping-future-leadership
https://www.linkedin.com/pulse/20141116173602-54252615-sq-eq-iq-pq-success
https://www.indeed.com/career-advice/career-development/innovative-leadership
https://www.thesuccessfactory.co.uk/blog/leadership-is-all-about-discipline



