PARADIGMPARADIGM
  • HOME
  • Blog
    • Paradigm Latest Event
    • Personal Development
    • Professional English
    • Service Excellence
    • Our Programs
    • Character Building
    • Others
  • Programs
  • Prakerja
  • About
  • Contact Us
  • id_IDID
    • en_USEN
Oktober 3, 2019 by Cinta Maulida

Mengembangkan Diri dengan Berjejaring, Ini Manfaat dan Dampaknya untuk Masa Depan

Mengembangkan Diri dengan Berjejaring, Ini Manfaat dan Dampaknya untuk Masa Depan
Oktober 3, 2019 by Cinta Maulida

Artikel kali ini kita akan membahas tentang mengembangkan diri dengan berjejaring. Untuk itu, sebuah pertanyaan: Pernahkah kamu merasa stuck, seperti tidak berkembang di lingkungan kerja, kurang mendapatkan apresiasi dari atasan atau simply ngerasa kurang bermakna aja hidupnya? Seakan-akan hidup kita ini gitu-gitu aja. Apalagi kalau udah scroll sosmed, rasanya hidup orang lain kayaknya happy dan stress-free banget.

Perasaan ini bisa jadi adalah sebuah gejala dari krisis diri yang kita alami. Ada yang bilang part of quarter life crisis, atau ya sederhananya lagi galau aja. Kita juga bingung sebetulnya akar masalahnya seperti apa, karena krisis seperti ini tiba-tiba kerasa aja gitu, gak pake permisi. Inilah yang mungkin kebanyakan dialami beberapa angkatan kerja muda kita… sebuah syndrom kurang piknik hehehe.

Daftar Isi

  • Get Out of Your Comfort Zone
  • Nyaman dengan Perbedaan, Salah Satu Kondisi Mendorong Mengembangkan Diri dengan Berjejaring
  • Pentingnya Berjejaring dan Menambah Relasi
  • Dampak Mengembangkan Diri dengan Berjejaring terhadap  Kualitas Diri

Get Out of Your Comfort Zone

Makna kurang piknik ini bukan berarti kurang liburan ya, tapi lebih kepada kurang bergaul. Kita sering merasa stuck karena kita tidak pernah mengubah lingkungan sekeliling kita. Kita seperti sebuah automated machine yang bergerak setiap harinya dengan autopilot. Bangun tidur – sarapan – berangkat ngantor – pulang – nonton/cek sosmed/leyeh-leyeh – tidur. Siklus ini berulang terus menerus dan tubuh kita telah terbiasa dengan pola yang sama setiap harinya.

Semasa kita sekolah atau kuliah dulu, kita pun terbiasa dengan ritme yang sama hampir setiap harinya. Kita tidak pernah diajarkan bagaimana mendesain sebuah aktivitas harian yang berbeda dari biasanya. Kita nyaris berada di sebuah lingkungan pertemanan yang sama, sebuah pola hidup yang sama. Beruntunglah jika kita pernah merasakan pengalaman organisasi, dimana kita bertemu orang-orang yang berbeda dari kita, bisa bekerja bersama dalam sebuah kegiatan, bahkan menemukan persahabatan baru disana.

Spot on! (Image: Baciu Tudor)

Bertemu orang-orang yang berbeda sesungguhnya bisa memacu adrenalin kita. Secara tidak langsung nervous system kita akan diuji, alhasil kita menjadi lebih cautious dan meningkatkan awareness terhadap apa yang ada di sekeliling kita. Perasaan ini memang mulanya tidak nyaman (khususnya bagi introvert seperti saya), namun akan terasa rewarding pada waktunya.

Nyaman dengan Perbedaan, Salah Satu Kondisi Mendorong Mengembangkan Diri dengan Berjejaring

Sepuluh tahun yang lalu, saya berkesempatan mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat. Saya tinggal hampir 1 tahun bersama host family, atau keluarga angkat selama masa program tersebut. Saya menghabiskan waktu program di dua negara bagian yang berbeda, Georgia dan Florida, dengan kondisi sosial masyarakat yang berbeda.

Saat itu usia saya 16 tahun. Sungguh sangat canggung sekali rasanya saat melihat seisi sekolah isinya bule-bule semua. Tidak ada orang Indonesia satupun yang satu sekolah dengan saya. Apalagi saat itu saya menggunakan hijab dan rata-rata orang Amerika masih cukup sensitif terhadap para Muslim disana. Hal ini membuat saya semakin bimbang dan takut dalam menjalin hubungan dengan orang baru.

Dua minggu pertama saya mengalami kesulitan untuk mendapatkan teman. Mungkin saya kenal dengan satu dua orang yang satu bus dengan saya, atau mereka yang satu kelas dan satu ekskul dengan saya. Tapi saya tidak benar-benar bisa bercerita seperti halnya kita curhat kepada teman sendiri. Gap itu perlahan-lahan mulai terkikis saat saya tergabung di sebuah tim yang akan mengikuti perlombaan antar sekolah.

Saya akhirnya merasa lebih nyaman saat membuka diri dengan anggota tim yang memiliki tujuan yang sama, yaitu memenangkan perlombaan. Obrolan kami meluas, tidak hanya seputar topik yang akan dilombakan, namun juga seputar keluarga, budaya, hobi, dan lain sebagainya. Teman-teman saya dapat mengenal saya lebih dalam, begitupun dengan saya yang akhirnya memiliki cara pandang baru terhadap budaya mereka.

Pentingnya Berjejaring dan Menambah Relasi

Fast forward lima tahun kemudian setelah saya lulus kuliah, saya merasa bahwa saya tidak tau apa-apa. Skill yang saya miliki juga masih sangat terbatas. Saya sangat bergantung pada atasan tempat saya bekerja untuk memberikan saya lahan pekerjaan yang sesuai minat dan kemampuan. Hidup saya kembali terautomatisasi pada jadwal-jadwal yang telah ditetapkan oleh kantor, begitupun dengan rencana karir dan rencana-rencana lainnya.

Setelah membaca sebuah series buku Change! oleh Prof. Rhenald Kasali, saya menyadari bahwa dunia ini akan senantiasa berubah. Perubahan ini akan terjadi, terlepas kita siap atau tidak. Masuknya teknologi digital membuat persaingan di dunia bisnis dan tenaga kerja semakin seru dan menantang. Saya merasa jika saya tidak melakukan perubahan dan keluar dari zona ‘nyaman’, saya tidak akan bisa bertahan di zaman yang semakin keras ini.

Untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan baru, ada tiga hal yang bisa kita lakukan. Pertama, google. Kedua, bertanya kepada orang yang ahli. Ketiga, lakukan (experiment/experience).

mengembangkan diri dengan berjejaring
Sharing insight and experiences (Image: Ben Duchac)

Karena informasi yang ada di internet sangat banyak, sulit bagi kita untuk benar-benar melakukan filter terhadap apa yang kita butuhkan. Saya lebih suka bertemu dengan orang yang memahami bidangnya, dan jika memungkinkan, bekerja bersama meskipun saya tidak dibayar. Inilah yang disebut dengan networking alias berjejaring, yaitu sebuah proses memanjangkan jangkauan pertemanan kita untuk mendapatkan insight dan perspektif ilmu yang lebih luas.

Dampak Mengembangkan Diri dengan Berjejaring terhadap  Kualitas Diri

Proses ini awalnya juga tidak mudah. Empat tahun selama kuliah, saya lebih sering berada di lingkungan yang homogen. Meskipun saya juga berorganisasi, namun saya tidak punya banyak teman yang berbeda dari segi pengalaman, latar belakang agama, bahasa, dan suku bangsa. Awal mula saya memutuskan untuk mengikuti project di luar jam kerja, saya juga merasa tak nyaman. Saya tak kenal dengan siapapun disana. Saya juga sempat minder karena takut diremehkan mereka yang menurut saya keren-keren profil dan latar belakang pendidikannya. Mau berpendapat juga takut-takut gimanaaa gitu.

Perlahan setelah kenal satu dua orang, saya mulai memberanikan diri untuk berpendapat. Mulai memberanikan diri juga untuk mengambil pekerjaan yang lebih menantang di dalam tim. Ternyata cara ini manjur, akhirnya saya mendapatkan kepercayaan dari anggota tim dan mengembangkan percakapan-percakapan produktif tentang hidup, rencana karir, studi, maupun keluarga.

Bonusnya, saya dipertemukan dengan orang-orang yang berpengaruh terhadap hidup dan karir saya hingga saat ini. Inilah pertama kali saya merasakan manfaat dari mengembangkan diri dengan berjejaring.

Tak hanya itu, saya cenderung lebih selow terhadap pencapaian orang lain. Semasa kuliah, saya tergolong orang yang cukup kompetitif. Meskipun saya tetap memiliki ambisi dan rencana karier, saya melihat pencapaian karier orang-orang di sekitar saya sebagai sebuah inspirasi. Saya senang jika lingkaran sekitar saya bertumbuh, karena pertumbuhan mereka juga memicu pertumbuhan diri saya. Semakin banyak hal-hal positif dan ilmu-ilmu baru yang bisa saya serap dari kesuksesan mereka di bidangnya masing-masing.

Seperti matahari yang memberikan sinar dan kehangatan (Image: Maddi Bazzocco)

Lingkaran pertemanan yang luas membuat saya sadar bahwa setiap orang punya timing-nya masing-masing. Tidak ada dari kita yang maju secara instan, semuanya berproses dan memiliki tantangan tersendiri. Dengan begitu, saya menjadi lebih apresiatif terhadap pencapaian diri saya, karena setiap milestone yang saya capai adalah bagian dari sebuah proses panjang mencapai tujuan yang lebih besar. Jika di tengah jalan saya gagal dan perlu bantuan, saya tau harus menghubungi siapa. Semuanya berkat berjejaring 🙂

Jadi, sudahkah kamu ‘piknik’ dan melakukan hal-hal baru? ***

Feature image: Omar Lopez for Unsplash.

Previous articleService Excellence adalah Kunci Loyalitas Pelanggan, Pelajari 3 PrinsipnyaNext article Apa Itu Networking dan Inilah 10 Tips Membangunnya!
Cinta Maulida(https://cintamaulida.com)
Cinta is the Digital Strategist of PARADIGM. She enjoys writing as well as eating Takoyaki and Dimsum. Brace yourself, she can be your future life coach.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MOST POPULAR

  • Pelatihan Komunikasi Efektif 'Passion with Action & Effective Communication'
    Pelatihan Komunikasi Efektif: Meningkatkan Produktivitas dan Kualitas Hubungan dengan PelangganMaret 31, 2024
  • Menguasai Seni Penjualan: Membuka Kesuksesan dengan Sales Training ProgramFebruari 29, 2024
  • Mastering the Language of Success: How an English for Business Course Can Enhance Your Career
    Mastering the Language of Success: How an English for Business Course Can Enhance Your CareerFebruari 29, 2024
  • Dari Baik Menjadi Unggul: Bagaimana Pelatihan Service Excellence Meningkatkan Kinerja Perusahaan
    Dari Baik Menjadi Unggul: Bagaimana Pelatihan Service Excellence Meningkatkan Kinerja PerusahaanFebruari 28, 2024
  • Excellent Leadership Training Pakuwon Jati bersama PARADIGM
    Tingkatkan Kualitas Pemimpin, Pakuwon Jati Adakan Excellent Leadership TrainingOktober 31, 2023
logo paradigm white

PARADIGM endeavors to treat each customer with respect and kindness, to grow through innovation, invention, and creativity and to incorporate honesty and integrity in all aspects of business.

recent post

Pelatihan Komunikasi Efektif: Meningkatkan Produktivitas dan Kualitas Hubungan dengan PelangganMaret 31, 2024
Menguasai Seni Penjualan: Membuka Kesuksesan dengan Sales Training ProgramFebruari 29, 2024
Mastering the Language of Success: How an English for Business Course Can Enhance Your CareerFebruari 29, 2024
Dari Baik Menjadi Unggul: Bagaimana Pelatihan Service Excellence Meningkatkan Kinerja PerusahaanFebruari 28, 2024

CONTACT INFORMATION

OPERATIONAL OFFICE
Gedung Permata Cikini
lt. 3, Jl. Pegangsaan Timur No 7 Kel. Pegangsaan Kec. Menteng Jakarta Pusat 10320

CORRESPONDING OFFICE
Penthouse Plaza Marein
lt. 23, Jakarta Selatan, Indonesia
business@paradigm.co.idwww.paradigm.co.id
Monday - Friday 9.00 AM - 6.00 PM (WIB)
PT. Paradigma Lintas Semesta ©2023