“Welcome to the real life!” Kamu pernah tidak menerima pernyataan seperti itu ketika baru saja lulus kuliah dan hendak memasuki dunia kerja? Karena kata mereka yang lebih berpengalaman, dunia kerja itu keras! Sangat berbeda dengan dunia perkuliahan yang terbilang masih ‘aman’. Bahkan, sulitnya mencari pekerjaan bagi fresh graduate menjadi awal dari the real life itu sendiri. Mendengarnya saja kadang-kadang bisa bikin kita pesimis ya? Huhu padahal sikap optimisme sangat penting bagi kita untuk melangkah maju.
Saat telah memasuki dunia kerja, saya pun banyak mendengar bahkan mengalaminya sendiri, banyak ekspektasi tentang masa-masa indah setelah lulus kuliah yang mulai terpatahkan oleh realita. Beban kerja yang tidak sebanding dengan kompensasi, persaingan kerja yang tidak sehat dan mungkin pertemanan dalam dunia kerja yang tidak sesolid di dunia perkuliahan. Kebingungan, penolakan dan kegagalan yang dialami berkali-kali membuat optimisme dalam diri menjadi pudar. Padahal menurut beberapa penelitian, memiliki optimisme ini penting banget, loh!
Daftar Isi
Optimisme berkaitan dengan mindset berkembang, artinya orang optimis percaya kalau mereka bisa mengubah keadaan. Mereka cenderung mengambil tindakan positif untuk menciptakan masa depan daripada memandang diri sendiri sebagai hal yang tidak dapat diubah dan diperbaiki.
Menurut seorang psikolog bernama Dr. Martin Seligmen, optimisme artinya tidak menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang permanen. Contohnya ketika seseorang gagal dalam wawancara kerja. Kalau berpikir pesimis, Ia akan menganggap kalau Ia memang tidak pantas dipekerjakan atau tidak akan pernah mendapat pekerjaan. Tapi kalau berpikir optimis, kegagalan itu Ia anggap sebagai peluang yang hilang dan sebuah pengalaman untuk menuju peluang-peluang selanjutnya.
Sangat berbeda, kan? Tentu saja dampak yang ditimbulkan antara orang yang berpikir pesimis dan optimis juga akan berbeda.
Baca Juga : Percaya Diri adalah Kunci Sukses Berkarir, Simak Tips Ini Agar Kamu Lebih Pede!
Ada beberapa studi yang meneliti bahwa optimisme sangat bermanfaat, baik untuk kesehatan maupun peningkatan dalam dunia kerja. Dalam kesehatan setidaknya ada 3 penelitian.
Pertama, sebuah studi dari University of Pittsburgh, Pennsylvania, United States, menyimpulkan kalau wanita yang memiliki optimisme memiliki risiko penyakit jantung 30% lebih rendah.
Kedua, sebuah studi dari University of Michigan yang terletak di Ann Arbor, Michigan mengaitkan optimisme dengan resiko penyakit stroke yang lebih rendah.
Ketiga, penelitian yang diterbitkan dalam Canadian Medical Association Journal menyatakan bahwa orang yang optimis cenderung tidak mengalami disabilitas seiring bertambahnya usia mereka, juga dapat hidup lebih lama dari orang yang pesimis.
Dalam kaitannya dengan dunia kerja, sebuah studi di tahun 2004 membuktikan kalau optimisme mampu mengurangi stres kerja dan berkurangnya konflik kehidupan kerja. Juga penelitian di tahun 2016 menemukan kalau optimisme berhubungan positif dengan prestasi dan kepuasan kerja. Menarik, ya? Lalu, bagaimana sih caranya agar kita menjadi lebih optimis dalam bekerja?
Salah satu ciri dari pesimisme adalah adanya kekhawatiran yang berlebihan tentang masa depan, seringkali itu membuat kita jadi mudah stres dan tidak fokus di masa sekarang. Sebuah studi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menemukan bahwa siswa sekolah menengah yang mempraktikkan mindfulness cenderung mengalami stres yang lebih rendah, mereka bisa hadir secara utuh dalam momen-momen yang sedang mereka alami.
Untuk itu, tips pertama agar kita bisa lebih optimis adalah mempraktikkan mindfulness, hadirlah secara utuh dalam setiap pertemuan dan setiap interaksi dengan tim kerja. Fokus dan berikan yang terbaik semaksimal mungkin di setiap momennya. Kefokusan pada masa sekarang adalah investasi untuk masa depan yang positif.
Tips kedua untuk menjadi lebih optimis adalah dengan mensyukuri apa yang kita miliki. Sudah banyak sekali penelitian yang membuktikan kalau rasa syukur dapat meningkatkan kesehatan baik fisik maupun psikis. Bersyukur mampu meningkatkan rasa empati, memperbaiki kualitas tidur, mengurangi stres, meningkatkan harga diri, memperbaiki hubungan dan juga mampu meningkatkan optimisme dalam diri.
Ketika kita bersyukur dan menghargai apa yang kita miliki, kita akan berpikir positif tentang semua hal yang akan datang. Kalau saat ini kamu sedang mengalami masa-masa sulit di pekerjaan karena pandemi Covid-19, cobalah untuk melihat apa saja hal-hal dalam hidup kamu yang masih bisa kamu syukuri. Rasa syukur juga mampu membuat kita menjadi lebih tenang saat menghadapi berbagai tantangan dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari.
Tips ketiga agar kita menjadi lebih optimis adalah dengan mempunyai gambaran tentang jangka panjang. Fokus ke masa sekarang bukan berarti kita tidak punya pandangan ke masa depan, ya! Misalnya kamu merencanakan untuk mengadakan kerja sama program dengan partner.
Dalam waktu satu-dua bulan, program tersebut mungkin tidak akan memberi dampak yang signifikan terhadap perusahaan misalnya dari segi pendapatan. Tapi kamu punya gambaran kalau program tersebut akan berdampak pada brand awareness perusahaan dalam waktu tahunan. Jadi, gambaran jangka panjang ini sangat berguna sebagai pertimbangan kita dalam mengambil sebuah keputusan.
Menjadi proaktif adalah satu hal yang bisa membuat karirmu kelak menjadi cemerlang. Proaktif disini maksudnya adalah memperbesar rasa penasaranmu terhadap hal-hal yang menunjang karir secara spesifik. Misalnya nih kamu baru saja diterima bekerja disebuah perusahaan. Cobalah untuk aktif bertanya mengenai apa saja peran kamu dalam bekerja, apa saja kontribusi dan harapan perusahaan kepadamu dan bagaimana dampaknya terhadap kemajuan karirmu di perusahaan.
Hal ini secara tidak langsung akan membuat kamu lebih optimis, loh. Karena dari hal tersebut kamu bisa menentukan bagaimana langkah-langkah kamu selanjutnya.
Nah, hal yang tak kalah penting agar kamu bisa optimis adalah belajar mengelola harapan. Ya, saya paham memang ini tidak semudah yang diucapkan. Kalau mengutip dari Forbes, mempunyai ekspektasi itu perlu, tapi kita juga perlu menjaga ekspektasi kita agar tetap realistis. Mungkin sedikit membingungkan, ya? Mudahnya begini, misalnya kamu punya ekspektasi gajimu akan dinaikkan oleh atasan setelah beberapa lama kamu bekerja.
Boleh saja berekspektasi tapi sebaiknya jangan menerapkan standar yang terlalu tinggi. Sesuaikan dengan realita mengenai kemampuan perusahaan dan kontribusi yang bisa kamu berikan. Begitu juga ketika kamu mengharapkan kenaikan karir, tidak realistis kan kalau baru setahun bekerja sebagai staff, kamu langsung minta dipromosikan menjadi manager? Mengelola harapan membuat kita bisa lebih optimis dengan masa depan dan juga tetap realistis dengan masa kini.
https://work.chron.com/good-job-optimistic-person-17882.html
Sebagai pekerja di suatu perusahaan, kita diharuskan untuk bisa bekerja baik secara individual maupun berkelompok,…
‘Penjualan adalah seni!’ Sebagian mengatakannya seperti itu. Memang dimana letak seninya? Kemampuan dasar dari menjual…
While attending a conference in downtown Jakarta recently, I had the opportunity to meet and…
Pelanggan merupakan salah satu aset penting dalam suatu usaha, baik yang bergerak dibidang produksi barang…
Setelah sukses menyelenggarakan Sales Training dalam rangka menghadapi event Expo Pakuwon, training untuk Pakuwon Jati…
Dalam rangka memperkuat kemampuan tim sales, Pakuwon Jati menggaet PARADIGM sebagai vendor pelatihan untuk menyelenggarakan…