Source: Tim Mossholder for Unsplash
“New Year, New Resolution!” Siapa nih yang 1 Januari 2024 kemarin bertekad seperti itu? Membuat resolusi tahunan di momen pergantian tahun merupakan hal wajib bagi sebagian orang, mungkin kamu salah satunya. Awal tahun seolah menjadi momen yang sangat pas bagi kita untuk mulai meninggalkan kebiasaan buruk dan membangun kebiasaan baik. Tapi coba ingat-ingat daftar resolusi kamu di tahun 2022 lalu, berapa banyak sih yang terlaksana? Kalau sebagian besarnya tercapai sih sudah bagus. Tapi kalau tidak ada satupun yang tercapai, untuk apa itu resolusi kalau akhirnya hanya menjadi sebuah wacana! Tahun ini juga paling akan sama saja.
Karena itu, mumpung sekarang kita masih di pekan pertama tahun 2024, masih ada 11 bulan 3 pekan lagi untuk mencapai resolusimu, yuk kita coba evaluasi! Bisa jadi, resolusi kamu terlalu tinggi alias tidak realistis. Bisa jadi kamu hanya FOMO, hanya sekedar ikut-ikutan teman, sekadar buat update di media sosial. Hayo ngaku!
Tapi tenang saja, learner. Kalau resolusi tahunan kamu pernah atau sering tidak tercapai, kamu tidak sendirian. Kamu bukan satu-satunya orang yang gagal dalam mewujudkan resolusi tahunan. Dalam artikel ini, kita akan lebih dulu membahas data statistik tentang tingkat keberhasilan dan kegagalan resolusi tahun baru di Amerika Serikat.
Daftar Isi
Dilansir dari Discover Happy Habit, sebuah studi pada tahun 2006 menyatakan bahwa 41% dari orang Amerika yang membuat resolusi tahunan, hanya 9% yang berhasil mempertahankannya hingga akhir tahun. Sedangkan studi sebelumnya pada tahun 2007, menyatakan bahwa meskipun di awal ada 52% peserta yang merasa yakin resolusinya akan sukses, nyatanya hanya 12% dari mereka yang benar-benar sukses mencapainya.
Studi tersebut juga menemukan, komitmen dari mereka yang membuat resolusi tahunan, persentasenya semakin menurun dalam 6 bulan pertama
Dari kedua penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa hanya 9-12% orang yang tetap berkomitmen pada resolusi tahunan mereka. Kira-kira apa ya yang membuat resolusi mereka tidak tercapai?
Salah satu hal yang bisa membuat resolusi gagal adalah kita ingin mencapai sesuatu yang terlalu besar. Membuat perubahan besar dalam setahun memang terdengar keren, ya? Misalnya berat badan turun sekian kilogram atau fasih berbahasa asing. Namun seringkali kita tidak siap dengan konsekuensi untuk mewujudkan perubahan besar tersebut.
Menurut Kowalski, untuk mengubah perilaku, kita harus merasa tidak nyaman sedangkan tidak ada manusia yang ingin merasa tidak nyaman. Untuk membuat perubahan besar, kita perlu berada dalam keadaan yang tidak nyaman dalam jangka waktu yang sangat lama. Agar berat badan turun sekian kilo, kita akan mengalami ketidaknyamanan dalam perubahan pola makan dan pola hidup. Agar fasih berbahasa asing, kita bisa jadi akan kehilangan waktu santai karena digunakan untuk belajar dan berlatih. Tentu saja hal-hal yang belum menjadi kebiasaan tersebut membuat tidak nyaman dalam jangka waktu tertentu.
Menurut Terri Bly, seorang Psikolog Klinis, sebagai manusia kita tidak terikat untuk membuat perubahan besar dan menyeluruh. Jadi, kita perlu menetapkan resolusi-resolusi yang lebih kecil.
Coba kamu evaluasi, apakah daftar resolusi kamu terlalu banyak? Kalau kamu membuat 32 resolusi dalam setahun, pada akhir tahun kamu akan merasa sangat kecewa karena merasa gagal. Apalagi jika semua resolusi yang kamu buat adalah resolusi besar. Paling tidak, prioritaskan hanya 3 resolusi di awal tahun, apabila kamu ingin menambahnya seiring berjalannya waktu maka hal itu bisa kamu sesuaikan. Kan, mencetuskan resolusi tidak hanya harus di awal tahun?
Bisa jadi, dalam daftar resolusimu ada yang saling bertentangan. Misalnya yang pertama adalah kamu ingin lebih menghemat banyak uang, namun resolusi kedua kamu memanjakan diri dengan adalah membeli barang baru yang memuaskan keinginan misalnya perabotan rumah tangga. Padahal kamu tidak butuh itu. Jadi pastikan kalau resolusi yang kamu buat saling melengkapi. Dengan begitu akan lebih mungkin untuk dicapai.
Seringkali, resolusi yang kita buat cenderung menuntut, sesuatu yang kita rasa kita ‘harus’ melakukannya. Namun kita lebih fokus pada apa yang harus dilakukan daripada fokus pada apa untungnya bagi kita. Salah satu alasan kita gagal adalah karena kita tidak memahami alasan internal, kenapa kita menginginkannya? Apa itu resolusi yang benar-benar kamu ingin capai atau hanya sekedar agar terlihat keren dimata orang lain?
Jika kita tahu apa alasan kita membuat sebuah rencana, lebih memungkinkan bagi kita untuk menemukan cara yang menyenangkan dan memuaskan. Misalnya resolusi tahun baru adalah pergi ke gym. Kita perlu menggali lebih dalam dan bertanya pada diri sendiri, kenapa? Apakah karena kita ingin lebih sehat, ingin membentuk badan, atau hanya ikut-ikutan trend?
Alasan gagalnya resolusi bisa jadi juga karena kita sebetulnya belum siap berubah. Menurut Terri Bly, ada yang dinamakan model tahapan perubahan yang perlu dilalui seseorang untuk berubah,
Bly berpendapat bahwa orang-orang yang berkomitmen pada resolusi tahun baru mereka, kemungkinan besar karena sudah berada di tahap tindakan saat membuat resolusi. sedangkan mereka yang gagal, belum ada di tahap tersebut.
Tentukan berapa jumlah uang yang ingin kamu kumpulkan dalam setahun misalnya 48 juta.
Setelah kamu menentukan berapa jumlahnya, agar memudahkan kamu mengumpulkannya dalam setahun, coba hitung, berarti berapa banyak yang harus kamu kumpulkan setiap bulannya? Yap, paling tidak 4 juta. Atau kamu bisa juga membaginya dalam kurun waktu setiap 2 minggu, 2 bulan atau berapa pun.
Kami pikir menabung 48 juta per tahun itu masih masuk akal. Yang tidak masuk akal adalah ketika kamu punya resolusi lain seperti menabung 1 milyar sehari. Mungkin bisa saja namun hampir mustahil untuk dicapai.
Coba pikirkan juga, apakah ada kondisi dimana tidak memungkinkan bagimu untuk menabung 4 juta setiap bulannya? Apakah pendapatan kamu memungkinkan untuk mencapai resolusi tersebut? Kalau pendapatan kamu perbulannya misalkan 10 juta, mungkin-mungkin saja. Tapi jika pendapatan kamu perbulan hanya 3 juta, bagaimana bisa? Kecuali kalau kamu ingin menambah kran pemasukan dari pekerjaan sampingan.
Atau misalnya kamu adalah sandwich generation yang masih harus menanggung biaya hidup orang tua bahkan adikmu. Kamu perlu mempertimbangkan hal lainnya.
Tentukan kapan anda ingin mencapainya? Apakah persis di akhir tahun? Tanggal berapa setiap bulannya kamu ingin menabung?
Pastikan kamu sudah menerapkan metode SMART dalam resolusimu ya. Dibarengi dengan 4 hal lainnya yang telah disebutkan diatas, agar resolusi kamu tidak gagal lagi dan tidak hanya sekedar wacana!
The Psychology Behind Why New Year’s Resolutions Fail (verywellmind.com)
Sebagai pekerja di suatu perusahaan, kita diharuskan untuk bisa bekerja baik secara individual maupun berkelompok,…
‘Penjualan adalah seni!’ Sebagian mengatakannya seperti itu. Memang dimana letak seninya? Kemampuan dasar dari menjual…
While attending a conference in downtown Jakarta recently, I had the opportunity to meet and…
Pelanggan merupakan salah satu aset penting dalam suatu usaha, baik yang bergerak dibidang produksi barang…
Setelah sukses menyelenggarakan Sales Training dalam rangka menghadapi event Expo Pakuwon, training untuk Pakuwon Jati…
Dalam rangka memperkuat kemampuan tim sales, Pakuwon Jati menggaet PARADIGM sebagai vendor pelatihan untuk menyelenggarakan…