Sudah membaca artikel sebelumnya yang membahas tentang menjadi pemimpin yang baik di lingkungan kerja? Disana kita telah sedikit menyinggung tentang cara berkomunikasi seorang atasan kepada bawahannya, salah satunya mendengarkan suara tim yang merupakan bagian dari komunikasi efektif ditempat kerja. Namun sebetulnya prinsip berkomunikasi di lingkungan kerja itu seperti apa sih? Terlebih di tempat kerjamu, mungkin sumber daya manusianya terdiri dari berbagai generasi. Ada yang baby boomer, milenial juga Gen Z. Apakah cara berkomunikasi dengan mereka harus dibedakan agar efektif?
Masih dari interview yang PARADIGM lakukan dengan Dudi Arisandi, di perusahaan tempatnya bekerja juga terdiri dari berbagai generasi. Namun, Ia menegaskan bahwa meskipun berpegang pada value ‘people and customer-oriented’, tidak berarti bahwa setiap dari mereka harus diperlakukan berbeda dan spesial. Setiap individu dari setiap generasi mempunyai keunikan tersendiri. Sebagai leader Ia tidak ingin membeda-bedakan cara berkomunikasi kepada generasi yang berbeda.
Namun, justru setiap mereka harus bisa menempatkan diri. Misalnya sebagai generasi baby boomer, tidak perlu merasa senior hanya karena usianya lebih tua daripada generasi lainnya, menghindari sikap otoriter kepada generasi dibawahnya. Lalu bagaimana cara mengelola perbedaan antar generasi? Dimulai dari sudut pandang! Menurut Dudi, membicarakan diversity itu tidak sesempit soal usia. Berikut ini beberapa upaya agar komunikasi antar generasi menjadi lebih efektif:
Daftar Isi
Prinsip Berkomunikasi Antara Atasan dan Bawahan Agar Efektif
-
Berkoordinasi menggunakan bahasa yang universal dan dipahami semua
Dalam membentuk culture people oriented, segala informasi diberikan secara menyeluruh ke semua generasi. Tidak memandang usia, bahkan dari unsur diversity lain seperti suku, kewarganegaraan, dan agama. Karena perusahaan tempatnya bekerja bukan hanya terdiri dari orang Indonesia saja, maka perusahaan memilih bahasa Inggris yang dijadikan sebagai bahasa utama dalam berkoordinasi, baik yang sifatnya internal maupun eksternal.
-
Menggunakan data dan rasa dalam bersuara
Learner, apakah kamu pernah bingung bagaimana cara menyampaikan pendapat atau kritik kepada rekan yang lebih senior? Kalau kepada rekan kerja yang selevel mungkin kamu masih santai, namun jika mau bersuara kepada atasan bagaimana?Nah, menurut Dudi, ada 2 hal yang harus ada ketika kita mau bersuara: data dan rasa. Jadi, bukan hanya tentang suka dan tidak suka. Misalnya kinerja kamu dianggap tidak mumpuni sedangkan kamu merasa telah melebihi target. Jangan sampai kamu hanya protes karena merasa tidak adil ya! Bawa data yang menunjukkan bahwa kamu kinerja kamu tidak seburuk yang mereka katakan. Ingat bahwa setiap leader juga manusia, tidak 100% benar. Perusahaan juga bisa saja salah dalam memilih leader yang kurang kompeten. Kalau menurut kamu leader salah, sampaikan dengan data, bukan hanya rasa.
-
Adanya tools yang trusted untuk bersuara
Salah satu upaya leader yang bisa membantu karyawan dalam bersuara adalah menyediakan tools yang trusted. Artinya, karyawan punya media yang tepat dan terpercaya untuk menyampaikan feedback, pendapat, saran, kritik, keluh kesah bahkan curhatan. Di perusahaan tempatnya bekerja sudah ada tools survey yang di translate oleh Artificial Intelligence. Dimana semua suara yang masuk akan dicek oleh Dudi selaku Chief People Office bekerjasama dengan Human Resources Business Partner (HRBP). Apakah upaya para leader hanya sebatas itu? Tentu tidak, akan ada tindakan selanjutnya.
-
Menyediakan Sesi Pendampingan
Nah, tindakan selanjutnya setelah menyediakan tools untuk berusaha adalah pada leader menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan para karyawan, mengajak sesi 1 on 1, misalnya. Diharapkan, beberapa prinsip berkomunikasi yang telah dilakukan tersebut mampu membuat komunikasi menjadi lebih efektif.
“Be a good listener and make your time for your team,” – Dudi Arisandi
Intinya, leader yang excellence harus memiliki kemampuan active listening, bukan mendengarkan namun masuk telinga kanan keluar telinga kanan, misalkan sedang sesi 1 on 1 tapi mendengarkan samil bermain hp. Ada action lagi setelah sesi 1 on 1. 1 on 1 bukan sekedar untuk mengisi waktu senggang namun benar-benar hadir untuk mendampingi karyawan. Apalagi menurut Pak Dudi, generasi sekarang ini adalah generasi yang sangat perlu apresiasi.



