Halo learner! Berbicara tentang dunia profesional khususnya Human Resource, pasti kamu nggak asing lagi nih dengan salah satu praktisi yang namanya sudah sering sekali muncul di berbagai platform digital. Yap, Dudi Arisandi! Chief People Officer dari tiket.com. Baru baru ini PARADIGM melakukan interview dengannya mengenai bagaimanakah pemimpin yang baik dan berpegang pada value people and customer oriented, seperti culture yang digalakkan di tempatnya bekerja.
Anyway, tahu nggak sih kalau Dudi Arisandi dikenal dengan bapak pantun dalam dunia per-HR-an? Di setiap sesi sharingnya di berbagai platform, Ia hampir tak pernah absen melontarkan pantunnya. Bahkan di sela-sela sesi interview dengan PARADIGM pun begitu,
Beli tiket ke pulau
Sarapannya telur dadar
Kalau anak-anak tiket lagi galau
Ada pundak Pak Dudi buat bersandar
Wah wah… kira-kira leader style yang bagaimana sih yang beliau terapkan di lingkungan kerja? Sampai-sampai jadi sandaran oleh anak-anak tiket.com.
Berbicara tentang kepemimpinan, kamu sebagai staff di kantor pasti pengen banget dong punya atasan yang baik? Atau kamu yang memang sudah menjadi seorang pemimpin yang punya tim, pasti pengen juga jadi pemimpin yang baik. Nah gimana ya caranya menjadi pemimpin yang baik, bahkan bukan hanya good leader namun excellent leader?
Daftar Isi
Pemimpin yang Baik Bahkan Excellent Leader, Pemimpin yang Bagaimana?
Menurut Dudi, excellent leader adalah pemimpin yang punya bervalue people and customer oriented. Jadi bukan hanya memberikan yang terbaik kepada pelanggan namun juga kepada tim kerja. Sebagaimana core value HAPPY yang diterapkan di tiket.com (Hungry, Agile, People and customer oriented, Performance driven, dan Yourself). Lalu, pemimpin yang people-oriented itu yang bagaimana sih?
Pemimpin yang People-Oriented, Bagaimana Penerapannya?
Adalah pemimpin yang visible, alias mudah di reach-out oleh tim. Tujuannya agar barrier antara atasan dengan bawahan bisa diminimalisir. Ditempat kerja, inilah beberapa penerapannya,
-
Mendengarkan Suara Tim
Leader yang people-oriented adalah leader yang mau mendengarkan tim kerja. Mendengar ini bukan berarti hanya mendengarkan mereka saat berbicara ya, namun mendengarkan suara mereka termasuk pendapat, ide, kritik, dan saran. Dalam perusahaan yang menerapkan people-oriented seperti tiket.com, perbedaan pendapat antara leader dan staff bukanlah sesuatu yang harus dihindari.
-
Menyambut Langsung Anggota Tim Baru
Coba ingat-ingat ketika hari pertama kamu bekerja, siapa saja atasan yang menyambut kamu? Nah, penerapan di lingkungan kerja Dudi Arisandi, sejak hari pertama karyawannya bergabung, salah satu Board of Director (BOD) menyambut langsung. Siapa pun yang baru bergabung termasuk anak intern pun, salah satu direktur akan menyambutnya, berbeda dari kebiasaan di banyak perusahaan dimana yang menyambut karyawan baru hanya tim Human Resources atau learning team.
Selain itu, setelah 1 hingga 2 bulan, seluruh tim yang baru bergabung akan berkumpul dan berdiskusi bersama seluruh BOD, bukan hanya BOD dalam divisinya saja. Menurut Dudi Arisandi, kita sebagai atasan perlu menyempatkan waktu, sesibuk apapun. Sebagai tim kerjanya, mereka tidak ada batasan dalam bertanya. bahkan pertanyaan yang belum terjawab pada sesi diskusi akan tetap dijawab melalui email. Jadi, tidak ada satupun suara yang terlewatkan. Hal ini bisa membuat karyawan merasa dihargai karena concern mereka didengar.
-
Menggunakan Channel Komunikasi Utama
Siapa diantara kamu yang menggunakan aplikasi Slack ditempat kerja. PARADIGM dan TIKET.COM menggunakannya lo. Sebagai salah satu decision leadership, leader perlu memastikan untuk hanya menggunakan 1 media komunikasi utama, agar jalur koordinasinya tidak menyebar kemana-mana. Apapun jika setiap divisi atau koordinasi yang lebih kecil memerlukan grup WhatsApp atau lainnya maka tidak ada larangan, namun jalur koordinasi utama harus tetap melalui channel komunikasi yang utama agar efektif.
Menarik ya? Namun pada setiap decision leadership pasti ada saja nih tantangannya, kira-kira dari pengalaman seorang Dudi Arisandi, apa saja ya tantangan yang pernah dihadapi?
Baca Juga: Gaya Kepemimpinan Milenial Vs Tradisional, Kamu Dan Seniormu Tipe Leader Yang Mana?
Pemimpin yang Baik dan People-Oriented, Apa Tantangannya?
-
Membangun Culture Tidak Bisa Instan
Walaupun suatu perusahaan menerapkan people-oriented , tentu saja tidak semua leader di dalamnya secara otomatis mau dan mampu menerapkannya. Dimanapun tempat kerja, pasti selalu ada saja yang tidak sepemahaman. Namun perlu diingat bahwa membangun sebuah culture yang baik itu tidak instan. Membangun culture memang butuh proses, bukan pekerjaan yang instan dan bisa selesai dalam sehari.
Yang paling penting adalah upaya yang kita lakukan. Nah, kalau pemahaman dan perilaku mereka sangat bertentangan dengan culture, bagaimana dong? Sebagai leader, Dudi Arisandi dan tim tidak segan-segan untuk melepaskan para leader yang tidak sesuai dengan value dan belief yang ingin dibangun.
“Culture is the most important part, especially on the leadership side.” – Dudi Arisandi. -
Tidak Menjamin Growth Mindset Semua Tim
Dalam menerapkan people-oriented guna meminimalisir barrier, salah satu tantangannya adalah bisa diartikan sebagai kedekatan dan berdampak pada kurangnya profesionalitas.
“Karena maturity setiap orang berbeda, kedekatan kadang bisa disalahartikan,” Ungkap Dudi.
Ada saja karyawan yang malah menggunakan power atasannya untuk membela diri di depan orang lain. Padahal seharusnya tidak boleh seperti itu juga, tetap ada batasan-batasan tertentu dan cara menyampaikan informasi yang perlu diluruskan. Namun hal tersebut tidak selalu bisa dikaitkan dengan dampak dari penerapan people-oriented leadership style.
Bagaimanapun leadership stylenya, semua akan kembali lagi kepada masing-masing individu. Maturity setiap orang tidak bisa diubah begitu saja. Menurut Dudi. Menerapkan suatu hal pasti ada pro dan kontranya. Dan dalam menerapkan people-oriented leadership style ini, yang dirasakan adalah jauh lebih banyak pronya dibanding kontra.
Baca Juga: Tim Anda Generasi Z? Agar Efektif, Terapkan Gaya Kepemimpinan Berikut Ini!
Anyway, yang sudah diterapkan Dudi Arisandi dan perusahaan tempatnya bekerja tersebut sesuai dengan apa yang diajarkan trainer kami dalam sesi Excellent Leader lo. Berbicara tentang sesuatu yang excellent adalah berbicara tentang komitmen. Ada 3 hal yang menjadi fokus seorang leader yang excellent:
3 Hal Yang Menjadi Fokus Excellent Leader
-
Purpose
Seperti yang telah diterapkan oleh Dudi, Ia dan leader lainnya mempunyai believe yang menuntun mereka dalam berperilaku sehari-hari. ia menyelaraskan core value perusahaan dengan leadership style terhadap tim kerja. Purposenya jelas sejak awal, bertindak sesuai dengan goals agar meminimalisir barrier antara atasan dan bawahan. Purpose yang jelas dapat mendorong kamu untuk punya komitmen yang kuat. -
People
Perusahaan tempat Ia bekerja menggunakan pendekatan yang berpusat pada tim kerja dan pelanggan. Menyadari bahwa sumber daya manusia adalah aset terpenting, people-oriented sangat menghargai upaya seluruh tim yang berkontribusi dalam keberlangsungan bisnis. Karena itu perusahaan juga perlu memberikan komitmen terbaik pada seluruh karyawannya. -
Promise
Nah, terakhir. Setelah berkomitmen, pemimpin yang baik dan excellent harus mampu menepati komitmen yang telah disepakati, dengan cara menunjukkan profesionalisme baik secara lisan maupun tindakan. Purpose perusahaan perlu dihayati dalam tindakan sehari-hari. contoh paling mudahnya adalah menyempatkan waktu untuk hadir mendampingi tim kerja.




